Kamis, 28 Maret 2013

hadist kelompok 4 ttg keutamaan pendidik


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia diciptakan oleh Allah diberi kelebihan yang sangat dominan dibanding dengan mahluk lainnya, yaitu kelebihan berupa akal yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Namun perlu digaris bawahi, disamping Allah memberikan kelebihan kepada manusia, manusia juga mengemban tugas yang sangat berat, yaitu menjadi pemimpin di bumi. Diharapkan dengan akal, manusia dapat bijaksana dalam menyelesaikan berbagai urusan, dan dapat memilah dan memilih mana hal yang hak dan mana yang bathil. Namun kelebihan akal tersebut tidak aka ada gunanya bila digunakan untuk kemaksiatan dan kerusakan, oleh karena itu untuk membentengi hal tersebut perlu dilandasi adanya ilmu. Dengan ilmu kita akan lebih dekat menuju jalan ke surga, dan dengan ilmu pula manusia akan selamat.
Di sisi lain, manusia yang berilmu memiliki kedudukan yang mulia tidak hanya disisi manusia, tetapi juga disisi Allah. Sebagaimana dijelaskan bahwa dalam firman Allah dalam Q.S. Al-Mujadilah : 11, yang artinya “Allah akan meninggikan orang – orang yang beriman diantara kamu dan orang – orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Oleh karena itu, Islam memandang bahwa menuntut ilmu itu sangat penting bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

B.     Rumusan Masalah
Penulis akan mencoba membahas hadits yang berkaitan dengan keutamaan pendidik yang terbagi ke dalam beberapa bagian  hadist yaitu:
§  Hadits tentang orang berilmu pewaris nabi
§  Hadits tentang mengajarkan ilmu mendatangkan pahala terus menerus
§  Hadits tentang Keutamaan mengajar
§  Hadist tentang derajat orang berilmu lebih tinggi

BAB II
PEMBAHASAN

A)    Hadits Tentang Orang Berilmu Pewaris Nabi
a.      Hadits

عن أبى دردائ قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
b.      Terjemahan
“Abu Darda’ berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang menempuh jalan mencari  ilmu, akan dimudahkan Allah jalan untuknya ke sorga. Seungguhnya Malaikat menghamparkan sayapnya karena senang kepada pencari ilmu. Sesungguhnya pencari ilmu dimintakan ampun oleh orang yang ada di langitdan bumi, bahkan ikan yang ada dalam air. Keutamaan orang berilmu dari orang yang beribadah adalah bagaikan kelebihan bulan malam purnama dari semua bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Nabi tidak mewariskan emas dan perak, tetapi ilmu. Siapa yang mencari ilmu hendaklah ia cari sebanyak-banyaknya.[1]
c.       Asbabul wurut
Mengenai asbabul wurut hadits di atas penulis tidak menemukan sumber yang relevan mengenai hadits di atas.
d.      Syarah hadits
Dalam hadits di atas dikemukakan beberapa hal penting yang berkaitan erat dengan tema ini adalah "ulama adalah pewaris Nabi". Pendidik, dalam hal ini terutama guru adalah orang yang berilmu pengetahuan dan sekaligus mengembangkan ilmu yang di milikinya kepada peserta didik . Dengan demikian, maka ia termasuk kategori ulama. Jadi, ia adalah pewaris para Nabi. Sebagai pewaris Nabi, tentu guru tidak dapat mengharapkan banyak harta karena beliau tidak mewariskan harta.
Akan tetapi Rasulullah SAW tidak pernah melarang orang berilmu termasuk pendidik untuk mencari harta kekayaan selama proses itu tidak mengurangi upaya pengambilan warisan beliau yang sebenarnya, yaitu ilmu pengetahuan
Dapat kita pahami bahwa pendidik yang pertama dalam dunia Islam adalah nabi Muhammad SAW, karena Allah memberikan wahyu yang berupa pengetahuan masalah-masalah agama, sosial, ekonomi dan lain-lainya di peruntukan pada nabi melalui malaikat Jibril. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-baqarah : 151
!$yJx. $uZù=yör& öNà6Ïù Zwqßu öNà6ZÏiB (#qè=÷Gtƒ öNä3øn=tæ $oYÏG»tƒ#uä öNà6ŠÏj.tãƒur ãNà6ßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJò6Ïtø:$#ur Nä3ßJÏk=yèãƒur $¨B öNs9 (#qçRqä3s? tbqßJn=÷ès? ÇÊÎÊÈ
Artinya :
     Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

e.       Analisa pemakalah
Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan seberapa pentingnya kedudukan seorang pendidik, karena tanpa adanya pendidik maka ilmu pengetahuan akan terputus karena tak ada lagi orang yang mengajarkan dan yang mewariskan ilmu untuk masa yang akan datang. Oleh karena itulah pendidik dinyatakan sebagai pewaris para nabi.
f.        Analisis kependidikan
Dalam pengembangan ilmu pengetahuan seorang guru sangat bertanggung jawab memberikan pertolongan pada perserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai tingat kedewasaan, maupun berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaanya, Mandiri dalam artian memenuhui tugasnya sebagai hamba dan khalifatullah serta mampu melakukan tugas sebagai makluk sosial dan sebagai makluk individu yang mandiri[2]
Menurut Imam Al-ghazali ada beberapa tugas atau kewajiban yang harus di laksanakan oleh seorang guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik :
·         Guru harus menaruh kasih sayang terhadap murid dan memperlakukan mereka  seperti terhadap anak sendiri.
Rasulullah bersabda yang artinya : “Sesungguhnya saya bagi kamu adalah ibarat bapak dengan anak”. Oleh karena itu guru harus bersikap kasih sayang terhadap murid seperti terhadap anaknya sendiri.
·         Tidak mengharapkan balas jasa atau imbalan, tetapi berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah SAW.
·         Berikanlah nasehat pada setiap kesempatan, bahkan gunakanlah setiap kesempatan untuk membina dan membimbingnya
·         Mencegah murid dari segala perbuatan tercela ( nahi munkar), Al-ghazali mengisyaratkan pencegahan ini dengan isyarat atau sindiran.
·         Sang guru harus mengamalkan ilmunya dan tidak bertolak dengan perbuatannya sendiri. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-baqarah : 44[3]
* tbrâßDù's?r& }¨$¨Y9$# ÎhŽÉ9ø9$$Î/ tböq|¡Ys?ur öNä3|¡àÿRr&
Artinya :
 “Apakah engkau suruh orang berbuat baik dan engkau melupakan (perbuatan) engkau sendiri”. ( QS. Al-baqarah : 44)


B)    Hadits Tentang Mengajarkan Ilmu Mendatangkan Pahala Terus Menerus

a.      hadist
“Barang siapa mengajarkan ilmu,maka dia mendapat pahala dari orang-orang yang mengamalkannya dengan tidak menggurangi sedikitpun pahala orang yang mengerjakannya itu”. (HR ibnu majah)
b.      Asbabul Wurut
Mengenai asbabul wurut hadits di atas penulis tidak menemukan sumber yang relevan hingga penulis tidak menyajikanya.
c.       Syarah Hadits
Sehubungan dengan hadis di atas bahwa pendidik adalah orang yang beruntung karena pahala orang mengajarkan ini akan selalu bertambah sejalan dengan orang yang menjalankan ilmu nya tersebut. Dari hadits ini dapat dipahami bahwa orang yang berilmu akan di beri pahala oleh allah selama orang tersebut mengamalkan dan menjalankan amalan ilmu yang di ajarkannya selama ilmunya tersebut bermamfaat bagi orang lain.
d.      Analisa pemakalah
Dari pernyatan hadits di atas dapat kita telaah bahwa amalan seorang guru tidak akan pernah terputus, selama para muridnya melaksanakan amalan yang di ajarkannya yaitu amalan yang bermamfaat bagi dirinya maupun orang lain walaupun seseorang tersebut telah meninggal dunia sekalipun.
Misalnya saja seseorang guru mengajarkan muridnya membaca al-qur’an, selama muridnya masih membaca dan mengamalkan alqur’an tersebut maka pahalanya akan terus mengalir kepada gurunya tersebut tanpa menggurangi pahala orang yang mengamalkannya..
e.       Pandangan dari segi kependidikan
Ilmu mempunyai peranan sangat penting dalam dunia pendidikan, yang mana pendidikan adalah Universal, ada keseimbangan  antara aspek intelektual dan spiritual, antara sifat jasmani dan rohani. Dengan pendidikan  yang benar dan akhlak yang kuat, maka akan tumbuh generasi penerus bangsa yang beradab dan bermartabat. Karena keberadaan pendidikan menjadi Prasyarat kemajuan sebuah bangsa.
Dalam Islam pendidikan sangatlah penting, terutama pendidikan terhadap anak. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada seluruh orang tua untuk selalu memperhatikan pendidikan anak dan memberikan pengawasan terhadapnya, dengan cara membiasakan dengan akhlak yang mulia, menanamkan benih-benih keimanan dalam hatinya, mengawasi segala urusannya, karena seoarang anak jika diabaikan maka akan rusak akhlak dan tabi’atnya, dan akan menjadi seorang yang tidak beradab, tidak bermanfaat dalam kehidupannya,bahkan akan menjadi virus bagi masyarakat.

C)    Hadits Tentang Keutamaan Mengajar

a.     Hadist
وقال صلى الله عليه وسلم إن الله سبحانه وملائكته وأهل سمواته وأرضه حتى النملة في جحرها حتى الحوت في البحر ليصلون على معلم الناس الخير حديث إن الله وملائكته وأهل السموات وأهل الأرض حتى النملة في جحرها وحتى الحوت في البحر ليصلون على معلم الناس الخير أخرجه الترمذي من حديث أبي أمامة وقال غريب وفي نسخة حسن صحيح
b.      Terjemahan
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci, malaikatNya dan penghuni langit dan bumiNya sehingga semut di dalam liangnya dan ikan di lautan itu memohonkan rahmat (selain Allah, sedangkan Allah memberikan rahmat) kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (H.R. At Tirmidzi dari Abu Umamah dan ia mengatakan gharib, dan pada naskah lain hasan shahih).
c.       Asbabul Wurut
Mengenai asbabul wurut hadits di atas penulis tidak menemukan sumber yang relevan hingga penulis tidak menyajikanya.
d.      Syarah Hadits
Sehubungan dengan hadis di atas bahwa pendidik adalah orang yang diberi rahmat oleh Allah. Ini merupakan keutamaan yang sangat berharga. Dari hadits ini dapat dipahami bahwa orang yang berilmu akan di beri rahmat oleh allah sehingga para malaikat dan para penghuni langit lainnya termasuk semut didalam liangnya dan ikan di lautan akan memohon rahmat kepada allah sehingga orang berilmu mendapatkan keridhaan dari Allah.
e.       Analisa pemakalah
Dari pernyatan hadits di atas dapat kita telaah bahwa jasa seorang guru sangat di hargai bahkan Allah akan memberikan rahmat,termasuk para malaikat dan para binatang turut mendoakan orang berilmu supaya mendapat rahmat dari allah. hal ini merupakan sesuatu yang wajar karena guru sangat penting sekali perannya dalam melakaksanakan tugas sebagai tenaga pendidik dalam kehidupan ini. Seorang guru memiliki keutamaan yang dapat menjadi contoh sehingga dapat di teladani oleh para murid nya dalam kehidupan sehari-hari.
f.        Pandangan dari segi kependidikan
Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikkan dengan guru (gu dan ru) yang memiliki arti  digugu  dan ditiru. Dikatakan di gugu (di percaya) karena guru memiliki seperangkat ilmu  yang memadai, yang karenanya peserta didik memiliki wawasan  dan pandangan yang luas  dalam melihat kehidupan ini.
Di katakan ditiru (diikuti) karena guru memiliki kepribadian  yang utuh, maka segala tindak tanduknya  di jadikan panutan  dan suru teladan oleh perserta didiknya. Dari uraian tersebut jelas keutamaan pendidik bahwa ia adalah panutan dan kepercayan,maka dalam kehidupan guru adalah orang yang sangat di percaya dan di hargai. 

D)    Hadist Tentang Derajat Orang Berilmu Lebih Tinggi

a.      hadist
“Dari ibnu abbas ra ia berkata : bagi orang – orang berilmu (ulama) berapa derajat di atas derajat orang mukmin dengan berbanding 700 derajat,Antara derajat yang satu dengan yang lain berbanding 500 tahun.” ( H.R Ahmad)

b.      Syarah Hadits
Sehubungan dengan hadis di atas bahwa pendidik adalah orang yang beruntung karena orang-orang berilmu di tinggikan derajat nya . Dari hadits ini dapat dipahami bahwa bagi orang – orang berilmu (ulama) berapa derajat di atas derajat orang mukmin dengan berbanding 700 derajat, antara derajat yang satu dengan yang lain berbanding 500 tahun.
c.       Analisa pemakalah
Dari pernyatan hadits di atas dapat kita telaah bahwa derajat orang berilmu lebih tinggi di bandingkan dengan orang mukmin yang tidak memiliki ilmu, jadi dapat kita pahami orang mukmin yang memiliki ilmu berarti orang tersebut di tinggikan derajatnya oleh allah 700 derajat.
g.      Pandangan dari segi kependidikan
Menuntut ilmu memang penting dan wajib bagi pria maupun wanita muslim, dimana menunjukan perbedaan derajat antara seorang muslim dengan seorang muslim yg berilmu. perbedaan antar mereka adalah 700 derajat, dengan masing- masing derajat itu berselisih sebanyak 500 tahun perjalanan. ini menunjukkan bahwa menjadi muslim saja tidaklah cukup, menjadi muslim yang berilmu sangat luar biasa.
Seperti yang juga disebutkan dalam alquran surat al mujadillah ayat 11 :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
Artinya
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Akan tetapi ada juga tentang larangan berbicara, menasihati bahkan beribadah tanpa didasari ilmu. dengan ancaman ibadah - ibadah menjadi sia - sia atau bahkan jadi berdosa.
intinya adalah bahwa sebagai muslim kita harus menuntut ilmu. dan dimana tempat menuntut ilmu selain melalui pendidikan formal maupun informal.
Namun kemuliaan orang yang berilmu bisa berubah menjadi kehinaan
ketika ia tidak mengamalkan ilmunya dan berbuat kerusakan. Bahkan,
Allah menghinakan mereka yang tidak mengamalkan ilmunya dengan
menyerupakan mereka seperti keledai yang memikul kitab seperti yang terdapat dalam surat al juma’ah ayat 5 :
ã@sVtB tûïÏ%©!$# (#qè=ÏdJãm sp1uöq­G9$# §NèO öNs9 $ydqè=ÏJøts È@sVyJx. Í$yJÅsø9$# ã@ÏJøts #I$xÿór& 4 }§ø©Î/ ã@sWtB ÏQöqs)ø9$# tûïÏ%©!$# (#qç/¤x. ÏM»tƒ$t«Î/ «!$# 4 ª!$#ur Ÿw Ïöku tPöqs)ø9$# tûüÏHÍ>»©à9$# ÇÎÈ  

Artinya :
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa Kitab-Kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim “.











BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Nabi SAW menemukan dua kelompok sahabat dalam masjid yang sedang membaca Alquran dan berdoa serta kelompok yang membahas ilmu pengetahuan. Beliau menghargai kedua kelompok tersebut. Akan tetapi, beliau lebih menyukai kelompok yang membahas ilmu dan bergabung dengan mereka sambil mempertegas peranannya "sebagai guru"
Pendidik, dalam hal ini terutama guru adalah orang yang berilmu pengetahuan dan sekaligus mengembangkan ilmu yang di milikinya kepada peserta didik . Dengan demikian, maka ia termasuk kategori ulama.
Keutamaan pendidik bahwa ia adalah panutan dan kepercayan,maka dalam kehidupan guru adalah orang yang sangat di percaya dan di hargai. sesungguhnya dunia dan segala isinya terkutuk kecuali zikir kepada Allah dan apa yang terlibat dengannya, orang yang tahu (guru) atau orang yang belajar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang berilmu adalah orang yang paling beruntung baik di dunia maupun di akherat kelak karena orang – orang berilmu akan selalu mendapat berkah dari allah swt.
B.     Saran

Dari uraian ringkasan di atas, penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi penulisan maupun dari sumber yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca semua yang bertujuan untuk membangun kesempurnaan bagi penulis kedepannya.






DAFTAR PUSTAKA


Abu hamid muhammad Al Ghazali. 1979 . Ihya’ ulum al din , Semarang : Faizan
Al-abrasyi Athiyyah Muhammad. 2003. Prinsip - prinsip Dasar Pendidikan Islam, Bandung : Pustaka Setia
Subrata Suryo. 1983 . Beberapa Aspek Dasar Kependidikan,  Jakarta: Bima aksara
Tafsir Ahmad. 2000. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya







[1] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya )
[2]Suryo Subrata B, Beberapa Aspek Dasar Kependidikan,  Jakarta: Bima aksara 1983
[3] Muhammad ‘Athiyyah  Al-Abrasyi, Prinsip-prinsip dasar Pendidikan Islam ( Bandung : Pustaka Setia ), hal 158-159

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar